Tittle : Aturan Anti
Cinta
Author : Fauziya Fitri
Genre : friendship, drama, romantic
Cast : Ilham, Bisma, Rangga, Dicky (SMASH) – Kinal, Melody,
Veranda, Ayana (JKT48)
Inspiring story by JKT48’s song
Cover by Fauziya Fitri
Menunggu memang hal yang paling
menyebalkan, itu yang Melody lakukan bersama Kinal di gerbang sekolah sebelum
bel berbunyi. Setiap pagi harus menunggu Veranda yang biasanya suka telat. Bisa
aja sih Melody dan Kinal meninggalkan gerbang sekolah tanpa menunggu Veranda
lalu masuk ke kelas, tapi rasanya enggak, mengingat Melody, Kinal dan Veranda punya perinsip
kesetiakawanan.
Berbeda dengan hari sebelumnya,
pagi ini matahari terasa mendekat membuat Kinal yang notebennya sedikit gak
sabaran jadi lebih senewen. Dengan mengeluarkan buku tipis dalam tas, Melody
mengayunkan buku kearah wajah Kinal, sekedar mengurangi senewennya pagi ini.
“Nah, itu Ve.” Seru Kinal lega,
Melody menoleh melihat Veranda keluar dari taxi.
“Sorry gue telat, jalannya macet
banget.” Terang Veranda sebelum Kinal mengajukan pertanyaan atau tepatnya
sedikit omelan padanya.
Kinal menghela nafas beratnya.
“Yaudah, kita masuk aja, panas nih.”
“Kita ke kantin dulu, ya. Aus
nih, tadi gue buru-buru, sarapan aja gak sempet.” Ucap Veranda.
“Katanya buru-buru, tapi kenapa
telat dateng?” tanya Melody.
“Gue mana tau kalo jalanan bakal
macet parah.” Balas Veranda.
“Udah deh gak usah pada ribut,
yang penting kan belum bel.” Ucap Kinal sedikit kesal mendengar celotehan kedua
sahabatnya itu di telinga sebelah kiri dan kanannya. Melody dan Veranda
langsung mengatupkan bibirnya.
***
“Sini, Bis. Lempar!”
“HAP!” Ilham menangkap bola
basket yang dilempar Bisma lalu ia men-drible bola itu. Mereka berdua
saling mengoper bola di lorong sekolah.
Ditengah permainan mereka, Bisma
melempar bola lebih jauh ke belakang Ilham, mau tak mau Ilham harus mengambil
bola itu.
“Arrhhg..” Ilham menabrak Veranda
yang tengah berjalan bersama Melody dan Kinal. seketika mereka menghentikan
langkahnya, begitu juga Bisma yang berdiri ± 2 meter dari Ilham, ia hanya menepuk
keningnya, mau kabur tapi kasian juga pada Ilham yang pasti bakal dapet omelan
cewek-cewek itu.
“Ups.. Gue gak sengaja.”
“Heh, badut. Kalo jalan yang
bener dong. Liat baju temen gue jadi kotor.” Ucap Kinal sewot melihat baju Veranda
kotor terkena jus yang dipegangnya.
“Lagian jalan mundur-mundur gitu,
kebanyakan gaya loe.” Tambahnya.
“Siapa yang banyak gaya? Gue kan
bilang gak sengaja.”
“Sini gue bersihin.” Ilham mulai
mengkibas-kibaskan tangannya hendak membersihkan seragam Veranda.
Veranda mendaratkan tamparan pelan namun bisa
juga terasa pedih di pipi Ilham ketika Ilham akan membersihkan noda di baju Ve.
“Heh, loe mau ngapain? Jangan macem-macem ya.”
“Kok loe nampar gue? Gue Cuma mau
bersihin baju loe.” Ucap Ilham meringis kesakitan sambil mengusap pipi kirinya.
“Gak usah. Muka loe muka-muka
modus.” Balas Veranda ketus.
“Enak aja. Niat gue baik mau
bersihin baju loe.” Ucap Ilham tak terima.
“Ayo, Ham. Kita pergi aja.” Bisma
tiba-tiba datang menarik tangan Ilham hendak pergi, sekalian menghindari omelan
cewek-cewek.
“Ini lagi satu, maen ngajak pergi
aja. Temen loe masih punya urusan sama temen gue.” Sambar Kinal.
“Urusan apaan? Gue udah mau
tanggung jawab, tapi temen loe malah gak mau.”ucap Ilham yang tak mau kalah.
“Abisnya gue gak mau
dipegang-pegang sama loe, emang salah?”
“Kalo bukan gara-gara punya niat
baik bersihin baju loe, gue juga males megang-megang loe.”
Melody menggoyang-goyangkan
lengan Kinal sambil sedikit berbisik. “Ssuttt.. Yaudah lah, Nal, Ve. Kita damai
aja, malu tau diliatin anak-anak.”
“Kok loe nyuruh kita damai sih?
Harusnya dia minta maaf dulu.” Sahut Kinal sengaja mengeraskan suaranya,
matanya juga melotot-melotot ngeliatin Ilham.
“Yee, daritadi kan gue bilang gak
sengaja, GAK SENGAJA! Gak usah minta maaf kan?”
“Kok loe yang nyolot sih? Loe
emang dasarnya gak bisa bilang maaf. Itu gak susah, Cuma satu kata doang.”
“Harusnya gue yang nanya, kenapa
loe yang lebih nyolot? Temen loe aja gak senyolot loe.” Kinal belum sempat
membalas kata-kata Ilham, tiba-tiba sebuah jemari tangan sesaat menjewer daun
telinga Ilham.
“Ilham, kenapa kamu teriak-teriak
disini? Ini bukan lapangan.”
Ilham hanya bisa cengengesan
setelah dilihatnya Bu Hani berdiri disampingnya .“E-enggak, bu. Cewek ini nih.”
“Ini nih, bu. Dia tumpahin
minuman ke baju Veranda.” Adu Kinal. Seketika Bu Hani sekilas menatap baju
Veranda yang dimaksud Kinal.
“Saya gak sengaja, Bu. Suer deh.”
Bela Ilham seraya mengacungkan dua jarinya.
“Tapi dia gak mau minta maaf,
Bu.” Tandas Kinal.
“Ilham.. Ayo minta maaf pada
mereka.” Ucap Bu Hani, Kinal pun memasang wajah kemenangan. Sementara Ilham
manyun sejenak.
“Yaudah, sorry.” Ucap
Ilham pada Veranda. Kinal mengeryitkan alisnya, segitu doang? Dia bahkan gak
natap muka orang yang dimintain maaf.
“Ya sudah kalau begitu kalian
masuk kelas, ya.” Ucap Bu Hani
“Oh, Veranda. Nanti kamu bisa
bersihkan baju di toilet, ya.” Tambahnya sebelum melangkah pergi, ia cuek
seakan kasus seperti ini sering terjadi.
****
“Empat kali... Emm, hasil
konstansa-nya berapa?” Tanya Rangga sambil hendak berfikir untuk menulis angka
berapa yang harusnya ia tulis di buku dihadapannya.
“5.” Jawab Ayana yang sedang
duduk didepan bangku Rangga dengan posisi menyamping sembari fokus pada
kegiatan mengikir kuku tangannya.
“Hasilnya 5 tuh dari mana?” Rangga
yang tak percaya begitu saja dengan jawaban Ayana.
“Feeling gue bilang
jawabannya 5.” Ucap Ayana yang masih mengikir kukunya.
“Ngaco loe. Sebenernya loe udah
ngerjain belom sih?”
“Udah, ngerjainnya bareng Dicky
lagi, jadi gue rada gak fokus gitu.” Jawab Ayana dengan sedikit cengengesan.
Rangga berdecak kesal.
“Ck! Yaudah sini liat PR loe!”
Rangga beranjak dari duduknya untuk meraih buku PR Ayana di bangkunya.
“Iih, gak mau. Enak aja nyontek.”
Ayana berusaha mencegah tangan Rangga yang hendak mengambil bukunya, Rangga pun
mengalah dan duduk kembali.
“Gak nyontek, Cuma mau liat
caranya doang. Loe ngajarin gue gak bener sih, gue gak mau ngikutin feeling
loe.”
“Yaudah loe minta ajarin yang
sama lain aja, kenapa gue?”
“Lagian kenapa bangku loe ada di
depan bangku gue?” Rangga balik bertanya.
“Yaudah bangkunya mundurin,
nih..” dengan posisi duduknya, Ayana berbalik lalu mendorong meja Rangga,
Rangga hanya mengerutkan alisnya kesal melihat kelakuan Ayana.
“Eh, loe apa-apaan?” ucap Rangga
yang tak terima, ia membalasnya dengan menggoyang-goyangkan sandaran kursi
Ayana meskipun ia berteriak meminta ampun.
“Woy, loe ngapain isengin anak
kecil?” tanya Bisma yang baru datang menghampiri bangku Rangga, Rangga pun
menghentikan aksinya menggoyang-goyangkan kursi Ayana.
“Heh, enak aja. Gue udah gede
tau.” Sambar Ayana tak terima.
“Eh, kenapa loe, Ham?” tanya
Rangga melihat Ilham datang dengan memegangi pipi kirinya.
“Abis dicium cewek.” Jawab Bisma
asal.
“Ha? Serius?” tanya Rangga
meyakinkan.
“Wah, Ilham udah punya pacar?
Tapi liat-liat tempat dong, jangan di sekolah ju..” Bisma tiba-tiba menutup
mulut Ayana.
“Fluaahh.. Uh, tangan loe bau.”
“Lagian gak ada yang ngajak loe
ngomong.” Ucap Rangga pada Ayana.
“Boro-boro di cium cewek, gue
abis ditampar gara-gara numpahin minuman.” Ucap Ilham.
**
Seusai bel pelajaran kedua,
Veranda dan Melody izin ke toilet untuk bisa membersihkan sisa kotoran di
seragam sekolah Veranda. Sambil berjalan dilorong, dengan sibuknya Veranda
berusaha membuka resleting jaket milik Kinal, terasa sulit karena tangannya
sembari membawa handphone dan botol air mineral bekas membersihkan bajunya di
toilet.
Dari arah berlawanan, Rangga
berjalan didepannya. Tanpa melihat arah jalan, Veranda bertabrakan dengan
Rangga. Veranda berusaha menahan jaketnya agar tak jatuh ke lantai, tapi dengan
segala keribetan ditangannya, jaket itu pun jatuh ke lantai. Rangga melangkahkan
satu kakinya dan menginjak jaket, seketika Veranda menjerit kecil melihat
jaketnya terinjak.
“Aaah, jaketnya kotor.” Dumel
Veranda melihat jejak sepatu Rangga berada di pundak dan lengan jaket berwarna
putih-biru itu.
“Heh! Loe kok injek jaketnya sih?
Liat nih, kotor kan? Nih liat!!” ucap Veranda menunjukkan noda jaket ke depan
wajah Rangga.
“Salah loe sendiri jalan gak liat
ke depan.” Balas Rangga.
“Kan loe tau gue gak liat jalan,
harusnya loe bisa kan jalannya hindarin gue?”
“Mel, jaketnya kotor. Gimana
nih?” adu Veranda pada Melody, bukan karena ia akan kena omel Kinal tapi karena
tak ada baju bersih yang bisa menyembunyikan seregamnya yang kotor.
Rangga merebut botol air ditangan
Veranda lalu dengan santai menyiram ke jaket yang kena noda membuat Veranda dan
Melody melongo. “Nah, abis itu tinggal kucek-kucek aja. Gampang kan? Gitu aja
repot bener.”
“Loe apain jaket gue?” geram
Veranda.
“Bantuin bersihin.” Balas Rangga
masih santai.
Kesal dengan kelakuan Rangga,
Veranda merebut kembali botol airnya lalu dengan sengaja ia menyiramkannya ke baju Rangga.
“Heh! Apa-apaan sih loe?” Rangga
mulai kesal ddengan perlakuan Veranda.
“Kita impas.” Ucap Veranda santai
sementara Rangga hanya melotot memandang Veranda. Tanpa berkata lagi, Veranda
dan Melody hendak berjalan meninggalkan Rangga yang masih tertegun.
“Gue biarin pergi soalnya kalian chicken.”
Seketika Melody dan Veranda yang sudah dibelakang Rangga menghentikan
langkahnya. Veranda berbalik dan berjalan kearah Rangga.
“Barusan loe bilang apa?” tanya
Veranda memastikan.
“Loe seneng ya gue sebut chicken
sampe-sampe loe pengen denger lagi?”
“Hey, gue sama Melody bukan
pengecut. Gue Cuma mau loe ngerasain apa yang gue rasain.”
“Emang loe ngerasain apaan?”
“Loe pikun, ya? Kan tadi loe
nyiram jaket gue.”
“Lha, kan gue bantuin bersihin
doang.”
“Gak ngaruh apa-apaan. Malah
tambah parah.”
Rangga menghela nafas. “Oke, oke.
Sekarang mau loe apaan?”
“Ya bikin keadaan jadi impas
lah.”
“He?”
“Gue tantangin loe makan bakso
sekalian buktiin kalo gue bukan pengecut. Siapa yang paling banyak nuangin
sambel, dia yang menang.” Ucap Veranda.
“B-banyak-banyakan makan sambel?”
tanya Rangga.
“Iya.” Rangga sejenak tertegun, ia
berfikir bagaimana bisa makan banyak sambel sementara ia tak suka makanan
pedas, perutnya akan terasa perih nantinya.
“Gimana? Berani gak?” tanya
Veranda meyakinkan.
“Oke, siapa takut. Asal loe tau
ya, pas gue baru lahir aja langsung makan rendang pedes. Apalagi ini Cuma makan
bakso.” Ucap Rangga.
“Yaudah gak usah banyak omong,
gue tunggu di kantin pas istirahat.”
“Mel, loe jadi jurinya.”
Sambungnya pada Melody.
Setelah bel istirahat berbunyi,
Rangga pergi ke kantin untuk memenuhi tantangan Veranda. Tak berselang lama,
Veranda pun datang bersama Melody.
Tak membuang waktu, Melody duduk
diantara Rangga dan Veranda, ia segera memesan dua mangkok bakso untuk mereka
berdua, lalu memberikan sesendok sambal cabe pertama ke mangkok keduanya.
Tak banyak yang tau tentang
pertandingan ini, Melody memberikan satu sendok ke masing-masing mangkok setiap
setelah Rangga dan Veranda memakan dua suapan, ia lakukan itu berulang kali.
Meskipun terasa pedas dan lidahnya terasa panas, Veranda terus saja memakan
baksonya setiap kali Melody menambahkan sambal.
Tak beda dengan Veranda, Rangga
pun tak mau kalah, demi agar tidak terlihat lemah didepan cewek, ia tetap makan
dan menahan perutnya yang mulai terasa sakit dan mual. Untuk sekian detik,
Rangga menghentikan aksinya namun mual di perutnya perlahan mulai perih. Saat
Melody menuangkan sambal yang ke 12, sakit diperutnya juga mulai membuat kepalanya
pusing sehingga membuat ia tak sadarkan diri.
“Eh, kenapa nih?” tanya Melody
sembari kedua tangannya menahan tubuh lemas Rangga yang hendak bersandar
dipundaknya. Veranda menghentikan makannya lalu menoleh kesebelah kirinya.
“Ha? Kenapa, Mel?” tanya Veranda sembari tak bisa menahan rasa pedas dimulutnya.
“Gak tau, tau-tau dia begini.”
Veranda beranjak dari duduknya untuk melihat keadaan Rangga.
“Hey.. bangunn...” ucap Veranda
panik sambil menepuk-nepuk kedua pipi Rangga, namun Rangga hanya diam
memejamkan mata di pundak Melody.
“Loe jangan becanda deh,
banguun!!”
“Kayaknya dia beneran pingsan
deh, Ve.” Ucap Melody melihat wajah Rangga yang pucat.
“Aduh, gimana nih? Toloong..”
seketika siswa yang ada disana mengerubuti meja Melody.
“Ada apaan nih?” tanya Dicky
datang diantara kerumunan siswa.
“Ha? Rangga? Loe kenapa?”
sambungnya lagi yang juga ikut-ikutan panik seperti Veranda.
“Gak tau nih, tau-tauaja dia
pingsan.” Jawab Melody.
“Yaudah, kita bawa Rangga ke UKS.
Ayo angkat!” ucap Dicky, ia dan beberapa siswa laki-laki menggendong tubuh
lemas Rangga. Tak menghiraukan rasa pedas yang masih menempel di mulutnya,
Veranda dan Melody segera mengikuti rombongan yang membawa Rangga.
Setelah memeriksa keadaan Rangga
untuk beberapa saat, petugas UKS meminta agar Rangga segera dibawa ke rumah
sakit. Hanya menunggu beberapa saat setelah menelpon rumah sakit terdekat,
ambulance pun datang untuk membawa Rangga.
bersambung...............
Preview Part 2
“Lagian loe ngapain pake nerima
tantangan cewe itu? Biasanya setengah sendok sambel, perut loe udah melilit
aja.” ucap Bisma.
“Heh, dikit banget setengah
sendok. Satu sendok kali.” Protes Rangga.
“Iya, pokoknya itu deh.”
“Ya soal gengsi lah, Bis. Malu
dong kalo nolak, apalagi cewe.” Jawab Rangga.
“Bagus tuh, bagus, Ga. Gengsi
kita emang harus gede didepan cewe.
“Yaudah sii, seiring waktu
orang-orang bakal lupa masalah ini, dia juga bakal lupa.” Sekilas Kinal
melempar pandangan kearah Rangga yang tengah duduk agak jauh disebrang mereka
bertiga.
“Gak mungkin dia lupain lah, dia
kan korban.” Veranda yang berdiri diantara Melody dan Kinal hanya bisa
mengamati bibir siapa yang bicara. Bagai dua evil didalam tubuhnya yang saat
ini sedang berdebat, Kinal dan Melody tak mau mengalah.
“Karna gue baik, jadi Cuma 6juta
aja.”
“E-enam
juta?” Veranda melongo mendengar jumlah uang
yang disebutkan Rangga.
“Heh, hape loe bunyi tuh, Bis.”
Ucap Ilham saat ponsel Bisma berdering tanda panggilan masuk.
“Imel?” Ilham membaca nama kontak
yang tertera di layar ponsel Bisma, seketika Bisma menoleh dan menyabet ponsel
di atas meja dibelakangnya, lalu pergi menjauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar